Syarah Tiga Pesan Penting Kiai Rik || Oleh Mudir Babussalam Socah

Kiyai Rik Suhadi

 

Babussalam – Ada tiga pesan penting dari Kiai Rik Suhadi yang patut direnungkan oleh seluruh keluarga besar Babussalam Socah. Ketiganya bukan sekadar nasihat biasa, melainkan refleksi tentang bagaimana kita mendidik manusia, memaknai pengabdian, dan mempersiapkan generasi muda untuk meneruskan perjuangan.

Pesan pertama berbicara tentang seni menasihati. Pesan kedua mengajak kita merenungkan siapa pemilik Babussalam Socah dan untuk apa tempat ini dibangun. Pesan ketiga berbicara tentang potensi sekaligus kelemahan anak muda yang perlu dipahami agar mereka dapat tumbuh menjadi generasi yang produktif dan bertanggung jawab.

1. Asatidz Babussalam Harus Belajar Seni Menasihati
Pesan pertama Kiai Rik Suhadi adalah bahwa seluruh asatidz Babussalam Socah harus belajar seni menasihati. Menjadi pendidik bukan sekadar mengetahui kesalahan santri, menegakkan aturan, atau memberikan hukuman. Lebih dari itu, seorang pendidik harus memiliki kemampuan menyentuh hati, membangun kesadaran, dan mengantarkan seseorang kepada perubaha.

Agar lebih sederhana dan tidak terlalu kompleks dalam memahami pesan ini, kita perlu belajar dari komunitas belajar terkecil dan pertama yakni “keluarga”.

Ada satu hal menarik yang patut kita renungkan. Dalam urusan keluarga, cara Al-Qur’an berbicara tentang kehidupan keluarga kental dengan teka teki hikmah. Kita akan dapati banyak ayat keluarga justru menjelaskan ketentuan teknis perceraian secara terperinci. Kita dapat menemukan pembahasan tentang talak, masa idah, rujuk, dan berbagai ketentuan lainnya, terutama dalam Surah Al-Baqarah dan Surah At-Talaq. Bahkan, Surah At-Talaq memberikan panduan yang jelas mengenai bagaimana perceraian harus dijalankan sesuai dengan ketentuan Allah.

Namun, ketika kita bertanya tentang bagaimana membangun keluarga yang sakinah, bagaimana memperbaiki hubungan suami dan istri, bagaimana melembutkan hati anggota keluarga, dan bagaimana menumbuhkan kesadaran untuk saling memperbaiki diri, kita dituntut berfikir dan melakukan tadabbur yang lebih jauh. Tidak cukup hanya mencari petunjuk yang bersifat eksplisit. Kita perlu menggali hikmah, memperhatikan hubungan antarayat (munasabah), dan membaca pesan-pesan yang tersirat dalam rangkaian pembicaraan Al-Qur’an tentang keluarga.

Sebagai contoh, dalam Surah Al-Ahzab terdapat beberapa ayat yang menarik untuk direnungkan dalam konteks membangun keluarga dan memperbaiki manusia. Di antaranya adalah ayat 34 dan ayat 70–71.

Pertama, Surah Al-Ahzab ayat 34: Menghidupkan Rumah dengan Al-Qur’an
Allah berfirman:

وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَىٰ فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ

“Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah.” (QS. Al-Ahzab: 34, petikan ayat)

Ayat ini berada dalam rangkaian nasihat Allah kepada istri-istri Nabi. Secara langsung, ayat tersebut memerintahkan mereka untuk mengingat apa yang dibacakan di rumah mereka berupa ayat-ayat Allah dan hikmah.

Dari sini, kita dapat mengambil pelajaran yang lebih luas tentang pentingnya menghidupkan rumah dengan Al-Qur’an. Rumah tidak cukup hanya menjadi tempat tinggal, tempat beristirahat, atau tempat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Rumah juga perlu menjadi tempat tumbuhnya ilmu, iman, hikmah, dan kebiasaan saling mengingatkan dalam kebaikan.

Dalam rangkaian ayat yang sama, Allah juga menegaskan sifat-Nya:

وَكَانَ اللَّهُ لَطِيفًا خَبِيرًا

“Dan Allah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Ahzab: 34, bagian akhir ayat)

Sifat Allah Yang Maha Lembut mengingatkan kita tentang pentingnya kelembutan dalam membangun hubungan. Melalui tadabbur, kita dapat memahami bahwa rumah yang dihidupkan dengan petunjuk Allah semestinya menjadi tempat manusia belajar bersikap lembut, bijaksana, dan penuh tanggung jawab.

Tentu, ayat ini tidak secara langsung menyatakan bahwa membaca Al-Qur’an otomatis melembutkan hati seluruh anggota keluarga. Namun, ketika Al-Qur’an dibaca, dipahami, dan diamalkan, nilai-nilainya seharusnya hadir dalam perilaku sehari-hari.

Maka, jika kita ingin memperbaiki keluarga, jangan hanya sibuk mencari cara untuk menghentikan pertengkaran. Kita juga perlu membangun suasana rumah yang menumbuhkan kebaikan.

Pelajaran ini berlaku di pesantren. Jika kita ingin memperbaiki santri, jangan hanya berfokus pada daftar pelanggaran dan hukuman. Kita perlu membangun lingkungan yang membuat santri dekat dengan Al-Qur’an, terbiasa merenungkan maknanya, dan merasakan bahwa nilai-nilainya hadir dalam perilaku para pendidik.

Rumah yang ingin diperbaiki harus dihidupkan dengan petunjuk Allah. Pesantren yang ingin melahirkan manusia baik juga harus menjadikan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai bagian nyata dari kehidupan sehari-hari.

Kedua, Surah Al-Ahzab ayat 70–71: Qaulan Sadida sebagai Jalan Perbaikan
Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ۝ يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS. Al-Ahzab: 70–71)

Ayat ini sering kita dengar dalam pembukaan khutbah, nasihat ketakwaan, atau wasiat umum kepada kaum muslimin. Hal itu benar dan sesuai dengan kandungan ayat. Namun, kita juga perlu memperhatikan konteks dan keterkaitannya dengan rangkaian Surah Al-Ahzab secara keseluruhan.

Jika ayat 70–71 kita renungkan dalam pembicaraan tentang kehidupan keluarga, muncul pertanyaan penting: mengapa Allah menghubungkan perintah berkata benar dengan janji perbaikan amal?

Qaulan sadida bukan sekadar perkataan yang terdengar halus. Ia berarti perkataan yang benar, lurus, tepat, jujur, dan bertanggung jawab. Perkataan semacam ini dapat menjadi fondasi bagi hubungan yang sehat karena manusia membutuhkan kejujuran untuk saling memahami dan membutuhkan komunikasi yang bertanggung jawab untuk menyelesaikan persoalan.

Dalam kehidupan keluarga, perkataan yang benar dapat membantu suami dan istri menjelaskan persoalan dengan jujur, menyampaikan keberatan tanpa merendahkan, mengakui kesalahan tanpa mencari-cari alasan, serta mengingatkan tanpa mempermalukan.

Adapun janji yuslih lakum a‘malakum menunjukkan bahwa Allah mengaitkan perintah tersebut dengan perbaikan amal. Secara luas, amal mencakup berbagai tindakan dan tanggung jawab manusia, termasuk bagaimana kita menjalani kehidupan keluarga.

Kita tidak sedang mengatakan bahwa ayat ini secara eksklusif berbicara tentang komunikasi suami dan istri. Pesannya bersifat lebih luas, tetapi dapat kita terapkan untuk memahami pentingnya perkataan yang benar dalam memperbaiki hubungan antarmanusia.

Dari sinilah kita dapat menarik pelajaran pendidikan yang sangat penting. Jika ingin memperbaiki perilaku seseorang, kita perlu memperhatikan bagaimana kita berbicara kepadanya. Jika ingin santri memperbaiki amalnya, kita perlu membantu mereka memahami kebenaran, bukan sekadar memaksa mereka menunjukkan kepatuhan.

Nasihat yang baik bukan berarti membenarkan semua tindakan santri. Kesalahan tetap harus diluruskan, aturan tetap harus ditegakkan, dan tanggung jawab tetap harus dijalankan. Namun, cara menyampaikan koreksi harus diarahkan pada perbaikan, bukan pelampiasan kemarahan.

*Pukulan dan bentakan mungkin membuat seseorang berhenti melakukan sesuatu karena takut.* Akan tetapi, ketakutan tidak selalu menghasilkan pemahaman. Sementara itu, nasihat yang disampaikan dengan benar, pada waktu yang tepat, dan dengan cara yang bijaksana dapat membantu seseorang memahami kesalahannya serta membangun kesadaran untuk memperbaiki diri.

Inilah seni menasihati yang harus dikuasai oleh asatidz Babussalam Socah.

Jangan hanya bertanya, “Bagaimana caranya agar santri tidak mengulangi kesalahan ini?”

Kita juga harus bertanya, “Bagaimana caranya agar santri memahami kesalahannya, menyadari dampaknya, dan tumbuh keinginannya untuk menjadi lebih baik?”

Pertanyaan kedua menuntut kesabaran, ilmu, dan kedewasaan seorang pendidik.

Pendidik yang baik bukan hanya mampu menghentikan keburukan, tetapi juga mampu menumbuhkan kesadaran yang mengantarkan seseorang kepada kebaikan.

Ketiga, Seni Menasihati sebagai Inti Pendidikan Pesantren
Dua ayat tadi mengantarkan kita kepada satu pelajaran penting. Dalam upaya membangun dan memperbaiki kehidupan, kita perlu menghadirkan petunjuk Allah dalam keseharian dan membiasakan perkataan yang benar serta bertanggung jawab. Itulah sebabnya asatidz tidak cukup hanya memahami materi pelajaran dan peraturan pondok. Mereka juga perlu belajar memahami manusia. Ada santri yang cukup ditegur sekali dan langsung menyadari kesalahannya. Ada yang membutuhkan penjelasan lebih panjang. Ada yang perlu diajak berbicara empat mata. Ada pula yang memerlukan pendampingan berulang-ulang sebelum benar-benar berubah. Semua itu menuntut seni mendidik. Bahkan ada stu kata sering menjadi penyemangat dari Kiyai Rik tentang ini “Namanya Dakwah ya harus terus dan berulang” sebagaimana para Nabi yang terus sabar ketika membimbing ummatnya yang terkadang kumat-kumatan. Tegas bukan berarti kasar. Lembut bukan berarti membiarkan kesalahan. Menasihati bukan berarti mempermalukan. Dan mendidik bukan berarti melampiaskan emosi atas nama kedisiplinan.

Asatidz harus mampu menggabungkan ketegasan dengan kasih sayang, kebenaran dengan kebijaksanaan, serta aturan dengan pemahaman terhadap kondisi santri. Sebab, tujuan pendidikan bukan sekadar melahirkan santri yang patuh ketika diawasi. Tujuan yang lebih dalam adalah menumbuhkan manusia yang mampu membedakan benar dan salah, memiliki tanggung jawab, serta tetap memilih kebaikan sekalipun tidak ada orang yang mengawasinya.

Inilah yang perlu menjadi budaya pendidikan Babussalam Socah: mendidik dengan ilmu, menegur dengan hikmah, dan menasihati dari hati ke hati.

*2. Babussalam Socah Ini Milik Siapa?*
Pesan kedua Kiai Rik Suhadi mengajak kita merenungkan pertanyaan mendasar: Babussalam Socah ini milik siapa?

Apakah hanya milik mereka yang merintisnya? Milik mereka yang sekarang memegang jabatan? Atau milik mereka yang merasa paling berjasa dalam perjalanannya?

Secara kelembagaan, Babussalam Socah tentu memiliki pengurus, penanggung jawab, dan pembagian amanah yang harus dihormati. Namun, dalam makna pengabdian, Babussalam Socah harus menjadi ruang bagi siapa saja yang ingin berkarya dan mengabdi untuk agama.

Siapa pun yang memiliki niat baik, kesungguhan, dan kemampuan untuk memberikan manfaat perlu diberi kesempatan untuk mengambil bagian sesuai dengan kebutuhan pondok dan aturan yang berlaku.

Jangan sampai kita merasa bahwa *Babussalam Socah hanya dapat berjalan karena diri kita*. atau khawatir kalau tidak ada si fulan maka Babussalam akan berantakan. Jangan sampai kita berpikir bahwa ketika kita tidak lagi berada di dalamnya, tidak akan ada orang lain yang mampu meneruskan perjuangan. Allah tidak menggantungkan keberlangsungan kebaikan hanya kepada satu orang. Karena jalan fisabilillah ini dijamin oleh Allah. QS. Muhammad : 7. Setiap manusia memiliki masa pengabdian, sedangkan perjuangan dapat diteruskan oleh generasi berikutnya. Ketika seseorang datang untuk mengabdi, ia sedang mendapatkan kesempatan beramal. Ketika suatu hari ia harus pergi, bukan berarti kebaikan harus berhenti bersamanya.

Karena itu, kita perlu menghargai para perintis, menghormati orang-orang yang sedang mengemban amanah, dan membuka jalan bagi mereka yang akan meneruskan perjuangan. Orang yang benar-benar mencintai sebuah lembaga bukan hanya ingin terus berada di dalamnya, tetapi juga ingin memastikan bahwa lembaga itu tetap berkembang meskipun suatu hari dirinya tidak lagi berada di sana.

Babussalam Socah bukan tempat untuk merasa paling dibutuhkan, melainkan tempat untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya. Jangan menjadikan jabatan sebagai alasan untuk merasa paling memiliki. Jangan menjadikan lamanya pengabdian sebagai ukuran bahwa diri kita tidak tergantikan. Jabatan adalah amanah, bukan hak untuk menguasai perjuangan.

Jika hari ini kita dipercaya mengajar, ajarlah dengan sebaik-baiknya. Jika kita diberi amanah mendampingi santri, lakukanlah dengan penuh tanggung jawab. Jika kita bertugas mengurus administrasi, kebersihan, kedisiplinan, atau pelayanan lainnya, kerjakanlah dengan kesungguhan.

Setiap orang memiliki jalannya sendiri untuk beramal. Dan jika suatu hari kita tidak lagi berada di Babussalam Socah, tinggalkanlah sesuatu yang bermanfaat: ilmu, keteladanan, sistem yang baik, dan generasi yang siap meneruskan kebaikan. Sebab, keberhasilan pengabdian bukan hanya tentang berapa lama kita bertahan dalam sebuah posisi, tetapi juga tentang seberapa besar manfaat yang tetap hidup setelah kita meninggalkannya.

*3. Anak Muda: Potensi Besar, tetapi Juga Memiliki Kelemahan*
Pesan ketiga Kiai Rik Suhadi berbicara tentang pemuda. Pesan ini penting karena masa depan dakwah dan pendidikan sangat berkaitan dengan bagaimana kita memahami, mempercayai, sekaligus membimbing generasi muda.

Anak muda memiliki potensi besar. Mereka memiliki energi, keberanian, produktivitas, daya kritis, dan semangat untuk melakukan perubahan. Dalam dakwah dan pendidikan, potensi ini merupakan modal yang sangat berharga. Memberikan ruang kepada anak muda untuk berkarya adalah langkah yang baik. Mereka perlu mendapatkan kesempatan memimpin, mencoba gagasan baru, mengembangkan program, dan mengambil tanggung jawab. Tanpa kepercayaan, potensi mereka sulit berkembang.

Namun, ada sisi lain yang tidak boleh kita lupakan: potensi besar tidak berarti bebas dari kelemahan. Anak muda dapat memiliki semangat yang tinggi, tetapi terkadang kurang teliti. Mereka dapat memiliki idealisme yang kuat, tetapi belum selalu diiringi konsistensi. Mereka mampu melihat kekurangan sebuah sistem dengan cepat, tetapi terkadang membutuhkan waktu lebih lama untuk belajar memperbaikinya. Pelajaran ini dapat kita renungkan dari kisah Nabi Musa dan fatāhu, pemuda yang mendampinginya dalam perjalanan mencari pertemuan dengan hamba Allah yang diberi ilmu khusus, yaitu Nabi Khidir. Dalam Surah Al-Kahfi ayat 60–64, Allah menceritakan perjalanan Nabi Musa bersama pemuda yang mendampinginya. Ketika mereka sampai di tempat pertemuan dua laut, ikan yang mereka bawa mengambil jalannya ke laut. Namun, pemuda tersebut lupa menyampaikan peristiwa itu kepada Nabi Musa.

Allah mengabadikan pengakuannya dalam Surah Al-Kahfi ayat 63:

قَالَ أَرَأَيْتَ إِذْ أَوَيْنَا إِلَى الصَّخْرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ الْحُوتَ

“Dia berkata, ‘Tahukah engkau ketika kita mencari tempat berlindung di batu tadi, sesungguhnya aku lupa menceritakan tentang ikan itu.’” (QS. Al-Kahfi: 63)

Peristiwa ini bukan alasan untuk merendahkan pemuda. Justru, kisah tersebut memberikan pelajaran bahwa manusia yang mendampingi perjalanan besar sekalipun dapat melakukan kekeliruan. Sesuatu yang tampak sederhana, seperti lupa menyampaikan informasi, ternyata dapat menjadi bagian penting dari sebuah perjalanan. Dalam kisah itu, Nabi Musa harus kembali menelusuri jalan yang telah dilaluinya untuk menemukan tempat yang dituju. Ini menunjukkan pentingnya ketelitian, komunikasi, dan kesadaran terhadap tanggung jawab, terutama ketika seseorang terlibat dalam sebuah tugas besar.

Kita juga perlu memperhatikan posisi Nabi Musa. Beliau adalah seorang nabi dengan kedudukan yang mulia. Namun, beliau tetap menjalani perjalanan untuk belajar dari Khidir. Dalam perjalanan itu, Nabi Musa didampingi seorang pemuda. Dari kisah ini, kita dapat mengambil dua pelajaran sekaligus.

Pertama, orang yang memiliki pencapaian besar pun harus tetap bersedia belajar. Kedua, pemuda perlu diberi ruang untuk terlibat dalam perjalanan penting, tetapi keterlibatan itu harus disertai bimbingan, komunikasi, dan tanggung jawab. Inilah cara pandang yang perlu dibangun di Babussalam Socah. Kita tidak boleh meremehkan anak muda karena kekurangannya. Namun, kita juga tidak boleh menganggap bahwa semangat dan kecerdasan saja sudah cukup untuk membuat seseorang siap mengemban seluruh amanah.

Idealisme Harus Berjalan Bersama Istiqamah. Anak muda sering kali memiliki idealisme yang kuat. Mereka tidak suka melihat sesuatu yang menurut mereka keliru. Mereka cepat mengkritik kebijakan yang dianggap tidak tepat, mempertanyakan kebiasaan yang tidak sesuai dengan ilmu, dan menginginkan perubahan yang lebih baik. Semua itu merupakan potensi yang perlu dijaga. Pesantren membutuhkan generasi yang berani berpikir, kritis, dan tidak sekadar mengikuti kebiasaan tanpa memahami alasannya. ia harus mampu melihat jauh kedepan dan dari sisi-sisi cara pandang yang mungkin tidak terlihat, yang menuntut untuk lebih bijak.

Ada satu pertanyaan yang harus diajukan kepada setiap anak muda: setelah menemukan kekurangan, apakah kita juga siap mengambil tanggung jawab untuk memperbaikinya?. Sebab, mengkritik dan memperbaiki adalah dua kemampuan yang berbeda. Mengkritik membutuhkan kepekaan untuk melihat masalah. Memperbaiki membutuhkan kesabaran untuk menjalani proses. Mengusulkan perubahan membutuhkan keberanian, sedangkan melaksanakan perubahan membutuhkan kedisiplinan dan konsistensi.

Anak muda mungkin memiliki banyak gagasan tentang bagaimana sebuah lembaga seharusnya berjalan. Namun, ketika diberi amanah untuk menjalankan gagasan tersebut, ia akan berhadapan dengan berbagai kenyataan: keterbatasan sumber daya, perbedaan pendapat, pekerjaan rutin yang melelahkan, dan hasil yang tidak selalu sesuai dengan harapan.

Di sinilah idealisme diuji. Apakah ia tetap bekerja ketika tidak lagi mendapatkan pujian? Apakah ia tetap bertanggung jawab ketika pekerjaannya terasa membosankan? Apakah ia mampu menerima masukan ketika gagasannya dikoreksi? Apakah ia bersedia memperbaiki sesuatu secara bertahap, meskipun hasilnya tidak langsung terlihat?

Idealisme yang tidak disertai istikamah dapat berhenti sebagai kritik. Semangat yang tidak disertai tanggung jawab dapat berhenti sebagai slogan atau wacana. Karena itu, anak muda Babussalam Socah harus belajar menyatukan keberanian berpikir dengan kesediaan bekerja, kemampuan mengkritik dengan kemauan memperbaiki, serta semangat perubahan dengan ketekunan menjalankan amanah.

Jangan hanya ingin menjadi orang yang paling cepat melihat kesalahan. Jadilah orang yang juga paling siap membantu menyelesaikannya. Jangan hanya menuntut sistem yang baik. Belajarlah menjadi bagian dari orang-orang yang membangunnya. Jangan hanya ingin mendapatkan kepercayaan. Tunjukkan bahwa kepercayaan itu dapat dijaga melalui tanggung jawab dan konsistensi.

Anak Muda Perlu Dipercaya, tetapi Juga Perlu Dibimbing
Pesan tentang pemuda tidak hanya ditujukan kepada anak muda, tetapi juga kepada para pendidik dan pemimpin.

Jika kita ingin anak muda bertumbuh, kita harus memberi mereka kesempatan. Jangan sampai semua pekerjaan penting selalu dipegang oleh orang-orang yang sama karena kita takut memberikan ruang kepada generasi berikutnya. Namun, memberi kepercayaan bukan berarti membiarkan mereka berjalan tanpa arahan. Pemuda membutuhkan pendampingan, teladan, evaluasi, dan ruang untuk belajar dari kesalahan.

Ketika mereka keliru, bantu mereka memahami letak kekeliruannya. Ketika mereka terlalu bersemangat, ajarkan mereka mempertimbangkan risiko. Ketika mereka mengkritik, ajak mereka merumuskan solusi. Ketika mereka memulai sesuatu, dampingi mereka agar mampu menyelesaikannya. Dengan demikian, pesantren tidak hanya menjadi tempat bagi anak muda untuk menunjukkan potensi, tetapi juga tempat untuk membentuk kedewasaan. dan inilah yang menjadi alasan program leadership terbatas kemaren.

Nabi Musa tetap menjalani proses belajar meskipun beliau memiliki kedudukan yang mulia. Pemuda yang mendampinginya pun menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Dari sini kita belajar bahwa proses belajar tidak berhenti karena pencapaian, dan kesempatan berperan harus berjalan bersama kesediaan untuk terus memperbaiki diri.

Babussalam Socah membutuhkan anak muda yang berani, tetapi juga teliti; kritis, tetapi juga santun; idealis, tetapi juga realistis; kreatif, tetapi juga bertanggung jawab; serta produktif, tetapi juga istikamah.

Mari kita mendidik dengan hati, mengabdi tanpa merasa paling memiliki, dan saling mesupport agar potensi kita benar-benar menjadi manfaat.

Sebab, perjuangan yang baik bukan hanya melahirkan orang-orang yang pandai berbicara tentang kebaikan, melainkan juga manusia yang mampu mengamalkannya, menjaga keberlangsungannya, dan mewariskannya kepada generasi berikutnya. barokallahufikum. Ust. Safa

Bagikan Postingan Ini :

Leave a Reply