Menjadi Pendidik Di Era Digital | Prof. Maksum Radji

Prof Maksum Radji

 

 

الْحَمْدُ للهِ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ الَّذِي قَالَ إِنَّمَا بُعِثْتُ مُعَلِّمًا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

 

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

 

“Sungguh, telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.”  (QS. At-Taubah: 128)

 

Jamaah Rahimakumullah,

Dewasa ini kita berada di era modern, era digital yang bergerak secepat kilat. Informasi melimpah ruah hanya dalam satu ketukan jari. Para peserta didik kita bisa menemukan materi pelajaran, definisi hukum, hingga teori sains di layar gawai atau laptop mereka dalam hitungan detik.

Di zaman ini, tugas mentransfer informasi dan ilmu pengetahuan (transfer of knowledge) seolah telah diambil alih oleh mesin.

Ayat di atas merupakan tuntunan luhur bagi para pendidik sejati agar memiliki empati mendalam (‘azizun ‘alaihi ma ‘anittum). Guru harus kepekaan terhadap beban mental, tekanan sosial, dan kesulitan yang dihadapi generasi muda saat ini.

 

Lantas, jika semua pengetahuan bisa dicari di internet, apakah peran pendidik masih dibutuhkan?

Jawaban singkatnya adalah, “sangat butuh, bahkan jauh lebih butuh dibanding era-era sebelumnya”.

Gawai memang bisa memberikan jutaan teks, tetapi teknologi tidak memiliki jiwa (ruh) untuk membentuk spiritualitas dan akhlak. Di sinilah tugas luhur kita sebagai pendidik. Tugas ini bukanlah profesi duniawi semata, melainkan warisan suci dari baginda Nabi shalallahu alaihi wa sallam.

 

Rasulullah menegaskan kemuliaan tugas ini dalam sabdanya:

“Sesungguhnya Allah, para malaikat-Nya, serta penghuni langit dan bumi, sampai semut di lubangnya dan ikan di laut, benar-benar bershalawat (mendoakan kebaikan) untuk orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.”

(HR. Tirmidzi).

 

Namun demikian, marilah kita merenung sejenak secara jujur. Bagaimana realita perilaku pendidik di era modern saat ini?

Tantangan zaman hari ini begitu berat, sehingga tidak sedikit pendidik yang terjebak dalam pusaran arus negatif. Kita menyaksikan sebagian pendidik kehilangan kesabaran akibat tekanan hidup dan beban kerja administratif, lalu terjebak dalam kekerasan verbal bahkan fisik.

Ada pula yang terjebak dalam komersialisasi ilmu, memandang profesi ini hanya sebagai ladang transaksi materi, hingga hilangnya ruh kasih sayang di dalam kelas. Sebagian lagi mengidap sindrom “paling tahu”, merasa paling benar dan enggan dikritik, padahal para siswa dan peserta didik saat ini memiliki akses informasi yang sangat luas di berbagai situs digital.

Jika guru hanya mengandalkan status jabatan tanpa menyentuh hati, kelas akan menjadi gersang. Di sinilah kita butuh i’tibar dari generasi terbaik untuk membenahi realita ini.

 

Kisah Hikmah Era Pendidik Terbaik:

Mari kita renungkan sejenak kisah seorang sahabat bernama Mu’awiyah bin al-Hakam as-Sulami r.a. Pada saat itu ia belum tahu hukum bahwa tidak boleh berbicara saat shalat, lalu ia berbicara di dalam shalatnya. Selesai shalat, para sahabat lain memandangnya dengan tajam hingga membuatnya takut.

 

Mu’awiyah bin Al-Hakam Al-Sulami, ia berkata:

“Ketika aku sedang shalat bersama Rasulullah, tiba-tiba ada seorang laki-laki di antara jamaah yang bersin. Maka aku mengucapkan, ‘Yarhamukallah’ (Semoga Allah merahmatimu).

 

Namun, bagaimana sikap sang Pendidik Agung, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam?

Mu’awiyah berkata, demi Allah, beliau tidak membentakku, tidak memukulku, dan tidak pula mencaciku. Beliau hanya bersabda,

“Sesungguhnya shalat ini tidak pantas di dalamnya ada suatu perkataan manusia, ia hanyalah tasbih, takbir, dan membaca Al-Qur’an.” (HR. Muslim).

Subhanallah. Sebuah sentuhan kasih sayang inilah yang membuat ilmu meresap ke dalam dada. Karakteristik pendidik sejati adalah memiliki empati mendalam.

Sebagaimana firman Allah dalam QS. At-Taubah ayat 128,

 

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

 

“Sungguh, telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At-Taubah ayat 128)

Di era digital ini, murid membutuhkan sentuhan kasih sayang dan kelembutan emosional dari guru dan seorang pendidik agar mereka tidak mencari pelarian moral di tempat yang lain.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

 

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

 

“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.” (QS. Ali ‘Imran ayat 159).

 

Nasihat Salafus Shalih dan Pesan Emas KH. Ahmad Dahlan

Sebagai I’tibar bagi para pendidik di era modern, mari kita cermati nasihat para ulama terdahulu.

Imam Sufyan ats-Tsauri, seorang ulama besar dari generasi Salafus Shalih pernah menasihati:

“Pendidik itu laksana dokter, dan ilmu itu laksana obat. Jika dokter tidak tahu di mana letak penyakitnya, bagaimana ia bisa mengobatinya dengan tepat?”

Nasihat ini bermakna bahwa seorang pendidik harus memahami kondisi psikologis dan latar belakang anak didiknya sebelum menjejalkan pelajaran.

Berabad-abad kemudian, falsafah ini dihidupkan kembali di bumi Nusantara oleh KH. Ahmad Dahlan, sang pendiri Muhammadiyah.

Beliau meninggalkan satu pesan legendaris: “Jadilah guru sekaligus murid.”

Pesan ini adalah sungguh sangat mendalam maknanya, bagaikan obat penawar bagi kesombongan intelektual. Kiai Ahmad Dahlan menasihati kita bahwa seorang pendidik sejati tidak boleh berhenti belajar, terutama di era modern ini dimana teknologi terus berganti dan ilmu berkembang dengan pesat.

Hal ini sejalan dengan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam QS. Taha ayat 114:

 

وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا

 

“Dan katakanlah (Muhammad), ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku’.”

Menjadi guru berarti siap menyebarkan ilmu, namun di saat yang sama, siap merendahkan hati untuk terus mengaji dan belajar sepanjang hayat.

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah).

Kewajiban ini melekat seumur hidup, bahkan bagi kita yang sudah berstatus sebagai pendidik.

 

Jama’ah Rahimakumullah,

Kita tentu menyadari, menerapkan peran luhur di era digital ini tidaklah mudah. Ada benteng-benteng hambatan nyata yang membayangi para pendidik. Namun, jangan jadikan hambatan itu alasan untuk menyerah.

Mari kita cernati tips praktis di bawah ini sebagai bekal untuk berjuang di ruang kelas.

 

Pertama, Keikhlasan Niat dalam mewariskan ilmu yang bermanfaat.

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam  bersabda:

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” (HR. Al-Bukhari).

Sebagai seorang pendidik, niat kita harus lurus demi membentuk akhlak murid dan mencari ridha Allah, bukan sekadar urusan materi.

Ingatlah firman Allah dalam QS. Asy-Syu’ara ayat 109:

 

وَمَآ أَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ ۖ إِنْ أَجْرِىَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ

 

“Dan aku tidak meminta imbalan kepadamu atas ajakan itu; imbalanku hanyalah dari Rabb seluruh alam.” (QS. Asy-Syu’ara: 109)

 

Kedua, Keteladanan akhlak.

Karena anak didik di era media sosial seringkali kehilangan figur teladan, maka mereka merekam perilaku pendidiknya, bukan sekadar teori yang diajarkannya. Maka seorang pendidik harus memiliki akhlak mulia.

 

Ketiga, Menjadi pembimbing dalam menyaring informasi.

Di era banjir informasi dan hoaks di media sosial, seorang pendidik wajib membimbing anak didiknya untuk memiliki kecakapan berpikir kritis.

Mengajarkan paserta didik menyaring, memilah, dan memvalidasi informasi di media sosial agar terhindar dari info hoaks.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan tuntunan etika digital yang tegas dalam QS. Al-Hujurat ayat 6:

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

 

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya (tabayyun), agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan, yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”  (QS. Al-Hujurat: 6).

 

Keempat, Muraqabatullah.

Seorang pendidik, harus memiliki kesadaran penuh bahwa segala aktivitasnya selalu diawasi dan disertai oleh Allah. Sikap ini adalah landasan spiritual terdalam yang mengubah profesi mengajar dari sekadar pekerjaan formal menjadi ibadah yang penuh integritas, ketulusan, dan tanggung jawab moral.

Tugas seorang pendidik di era modern ini adalah menjaga agar hati anak didik kita tetap memiliki iman dan adab. Kecerdasan intelektual tanpa benteng moral hanya akan melahirkan orang pintar yang menyalahgunakan kepintarannya.

Oleh karena itu, wahai para guru dan para pendidik yang mulia, jangan pernah berkecil hati. Setiap peluh yang menetes saat kita menyusun materi, setiap kesabaran dalam menghadapi tingkah laku anak didik, dan setiap huruf yang kita ajarkan, mengalirkan pahala jariyah yang tidak akan terputus hingga hari kiamat.

 

Lantas sistem pembelajaran apa yang paling baik dalam era digital ini?

Di era digital, peran guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber ilmu karena informasi sudah melimpah di internet. Peran utama pendidik telah bergeser menjadi penjaga moral, pembimbing arah, dan inspirator jiwa anak didik.

Salah satu sistem pembelajaran terbaik di era digital, yaitu Hybrid/Blended Learning berpusat pada anak didik.

Sistem ini menggabungkan kekuatan teknologi digital (efisiensi akses data dan fleksibilitas) dengan sentuhan humanis pendidik (pembentukan karakter, adab, dan empati).

Fokus utamanya adalah mengubah murid dari penonton pasif menjadi pembelajar aktif. Sistem pembelajaran ini menggabungkan kecanggihan teknologi digital (untuk teori) dengan sentuhan nyata guru (untuk adab dan karakter).

Adapun metode praktis yang dapat dilakukan adalah,

  1. Flipped Classroom (Kelas Terbalik): peserta didik mempelajari materi dasar/teori lewat video di rumah. Waktu di kelas fokus untuk diskusi, latihan soal sulit, dan tanya jawab.
  2. Project-Based Learning (Belajar Berbasis Projek): peserta didik belajar menyelesaikan masalah nyata yang ditugaskan. Mereka memakai media digital untuk riset kelompok dan membuat karya (seperti video atau poster digital).
  3. Blended Sync & Async (Belajar Fleksibel): Membagi tugas dengan pas. Tugas mandiri diakses kapan saja lewat aplikasi (seperti Google Classroom), sedangkan tatap muka fokus pada bimbingan moral dan motivasi.
  4. Gamification (Belajar Sambil Main): Memanfaatkan aplikasi belajar berbasis game (seperti Quizizz atau Kahoot) agar peserta didik lebih semangat dan kreatif, serta tidak bosan saat menguji pemahaman materi.

 

Dengan demikian peran utama seorang pendidik di era digital ini selain menjadi kompas moral dan akhlak, memberikan contoh adab, kejujuran, dan integritas yang tidak bisa diberikan oleh gawai atau internet, seorang pendidik harus menanamkan iman dan rasa takut kepada Allah agar kecerdasan anak didik tidak disalahgunakan.

Disamping itu, para pendidik juha berperan sebagai penyaring informasi, mengajarkan tabayyun atas segara informasi, melatih anak didik menyaring, memilah, dan memvalidasi informasi internet agar terhindar dari hoaks, serta mengajarkan anak didik cara menganalisis masalah, bukan sekadar menyalin jawaban instan dari teknologi.

Para pendidik dan guru merupakan pembimbing nurani dan empati agar peserta didik memiliki rasa empati dan motivasi yang tidak dimiliki oleh kecerdasan buatan (AI), serta mendengarkan keluh kesah murid dan membimbing kesehatan mental, serta emosional mereka, dan keinginan untuk terus nelajar agar mereka memiliki movitasi untuk belajar sepanjang hayat (The Lifelong Learner).

Semoga Allah senantiasa melimpahkan taufik dan hidayah-Nya bagi kita semua.

“Yaa Allah, bimbinglah kami para pendidik agar mampu mengemban amanah ini dengan ikhlas. Jadikanlah anak-anak didik kami generasi yang shalih dan shalihah, yang cerdas akalnya, maju pikirannya, memahami teknologi, namun tetap mulia akhlak dan adabnya”.

 

Aamin Yaa Rabbal Aalamiin.

*). Disarikan dari beberapa sumber.

Bagikan Postingan Ini :

Leave a Reply