KISAH SEDIH ORANG-ORANG BERIMAN DI PENGHUJUNG RAMADHAN

Disusun oleh : Prof. Maksum Radji

بِسْمِ ٱللَّٰهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

اَلسَلامُ عَلَيْكُم وَرَحْمَةُ اَللهِ وَبَرَكاتُهُ‎

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ، اَلَّذِيْ أَنْزَلَ الْقُرْاٰنَ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَ
وَجَعَلَ رَمَضَانَ تَرْبِيَةً لِلْمُؤْمِنِيْنَ

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman,

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At Taubah [9] : 100).

Jama’ah Rahimakumullah,

Waktu sungguh cepat sekali berlalu. Kita kini telah berada di penghujung bulan mulia, bulan suci Ramadhan, yang artinya sebentar lagi bulan yang penuh dengan barokah dan ampunan-Nya ini akan pergi meninggalkan kita.

Bagi para sahabat Rasulullah dan para salafus shalih semakin dekat dengan akhir Ramadhan, generasi terbaik umat Islam ini justru semakin sedih.

Tentu ketika hari raya Idul Fitri tiba, mereka juga bergembira karena Ied adalah hari kebahagiaan. Namun di akhir Ramadhan seperti ini, ada nuansa kesedihan mendalam yang mereka rasakan, yang sepertinya tidak kita miliki di masa modern ini.

Lantas mengapa para sahabat dan orang-orang shalih bersedih ketika Ramadhan hampir berakhir?

Pertama, perginya bulan Ramadhan beserta berbagai keutamaannya.

Orang-orang beriman bersedih ketika menyadari Ramadhan akan pergi, sebab dengan perginya bulan suci itu, pergi pula berbagai keutamaannya.
Ramadhan adalah bulan, dimana pintu-pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup. Di bulan suci ini juga syetan-syetan dibelenggu, sehingga dengan rahmat-Nya, serangkaian ibadah di bulan suci Ramadhan ini terasa ringan bagi orang-orang beriman yang mendapatkan hikmah bulan suci Ramadhan.

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda,
“Apabila datang bulan Ramadhan, maka pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.”
(HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda,
“Telah datang kepada kalian bulan yang penuh berkah, diwajibkan kepada kalian ibadah puasa, dibukakan pintu-pintu surga dan ditutuplah pintu-pintu neraka serta para syetan dibelenggu.” (HR. Ahmad).

Sungguh betapa banyak kemuliaan bulan suci Ramadhan.

Bukankah hanya di bulan Ramadhan amal sunnah diganjar pahala amal wajib, dan seluruh pahala kebajikan dilipatgandakan hingga tiada batasan?

Salah satu hikmah mengapa Allah Subhanallahu wa Ta’ala membuka pintu surga pada bulan Ramadhan, karena hal ini berkaitan dengan kemuliaan bulan Ramadhan serta berbagai ibadah yang dianjurkan di dalamnya.
Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an.

Karena kemuliaan Al-Qur’an diturunkan pada bulan ini, maka tidak mengherankan jika pintu Surga dibuka lebar di bulan Ramadhan sebagai bentuk kemuliaan dan keberkahan yang Allah berikan kepada orang-orang Mukmin.

Semua keutamaan itu takkan bisa ditemui lagi ketika Ramadhan pergi. Kemuliaan ini hanya akan datang pada bulan Ramadhan setahun lagi. Padahal tiada yang dapat memastikan apakah seseorang masih hidup dan sehat pada Ramadhan yang akan datang. Maka pantaslah jika para sahabat dan orang-orang shalih bersedih, bahkan menangis mendapati Ramadhan akan segera berlalu.

Kedua, takut dan khawatir belum mendapatkan ampunan Allah.

Orang-orang yang beriman, takut sekiranya menjadi orang yang celaka karena tidak mendapatkan ampunan, padahal Ramadhan akan segera pergi. Maka mereka pun menangis, meluapkan ketakutannya kepada Allah seraya bermunajat agar amal-amalnya diterima.
Jika seseorang sudah mendapati Ramadhan, sebulan bersama dengan peluang besar yang penuh keutamaan, namun masih saja belum mendapatkan ampunan, benar-benar orang itu sangat rugi, bahkan celaka.

Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍأَوْ بَعُدَ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ

“Celakalah seorang hamba yang mendapati bulan Ramadhan kemudian Ramadhan berlalu dalam keadaan dosa-dosanya belum diampuni.” (HR. Ahmad).

Ketiga, ketidakpastian bertemu lagi dengan bulan Ramadhan.

Para sahabat dan salafus shalih, generasi terbaik umat Islam ini takut bahwa usia mereka tidak akan sampai untuk bertemu Ramadhan di tahun berikutnya. Mereka menangis karena merasa belum banyak mengambil manfaat dari Ramadhan. Mereka bersedih karena khawatir amalan-amalan mereka tidak diterima dan dosa-dosa mereka belum dihapuskan. Mereka takut karena boleh jadi mereka tidak akan bertemu lagi dengan bulan Ramadhan yang akan datang, bulan yang penuh berkah, rahmat dan maghfirah-Nya ini.

Saudaraku,

Demikianlah para sahabat Rasulullah dan para salafush shalih menyikapi dan memakmurkan bulan suci Ramadhan dengan berbagai amal shalih, guna meraih ridho, pahala dan ampunan Allah Subhanallahu wa Ta’ala. Ketika mereka memasuki detik-detik akhir penghujung Ramadhan, air mata mereka menetes, dan hati mereka sedih. Mereka merasa akan kehilangan kelezatan dan nikmatnya menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan. Mereka berduka akan kehilangan suasana indah dan syahdunya ber-i’tikaf, tilawah dan tadabbur Al-Qur’an yang dilaksanakan dengan penuh kekhusukan di bulan suci Ramadhan.

Berbeda dengan sebagian orang yang merasa senang karena akan kembali bisa makan dan minum di siang hari, para salafus shalih, generasi terbaik umat Islam ini, justru menjadikan akhir Ramadhan sebagai momen introspeksi, bagaimana agar tetap istiqamah dalam ketaatan pasca bulan Ramadhan.

Sejatinya, kitalah yang harusnya lebih bersedih dan banyak meneteskan air mata daripada mereka, karena kita merasa banyak ibadah yang tidak optimal yang kita laksanakan pada bulan suci Ramadhan ini.

Semoga rangkaian ibadah yang telah kita laksanakan selama Ramadhan mampu merubah kita menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.

“Yaa Allah terimalah amal ibadah kami di bulan Ramadhan dan limpahkanlah rahmat-Mu agar kami Istiqomah dalam menjaga kualitas ibadah kami di luar bulan Ramadhan.
“Yaa Rabb, janganlah Engkau jadikan puasa ini yang terakhir dalam hidup kami. Jika Engkau menjadikan sebaliknya (sebagai puasa terakhir), maka jadikanlah kami sebagai orang yang Engkau sayangi dan jangan jadikan kami sebagai orang yang Engkau jauhi”.

“Yaa Allah, Yang Maha Pengasih, jadikan sebaik-baik umur kami adalah penghujungnya. Dan jadikan sebaik-baik amal kami adalah pamungkasnya. Dan jadikan sebaik-baik hari-hari kami adalah hari di mana kami berjumpa dengan-Mu.”

Aamiin yaa Rabbal Aalamiin.

*). Dirangkum dari beberapa sumber.

Bagikan Postingan Ini :

Leave a Reply