Socah – 08 Ags 25 – Langkah demi langkah tegap terdengar di sepanjang jalan. Bukan sekadar derap kaki, tapi irama semangat yang mengalir dari hati para santri Pondok Pesantren Babussalam Socah. Tahun ini, Babussalam menurunkan sembilan regu dan berhasil meraih juara harapan 1 putra untuk nomor regu 1 dan juara favorit 3 putra untuk nomor urut 13.
Tujuan mereka jauh melampaui sekadar garis finish atau piala kemenangan. Inilah kelas kehidupan di ruang terbuka, tempat para santri belajar arti kebersamaan yang sesungguhnya—bagaimana melangkah serempak, saling memahami, mengalah demi kawan, menerima pendapat, bersabar, tidak egois, patuh pada komando, dan mengerti watak orang lain. Setiap regu adalah miniatur kehidupan: tak ada yang bisa menang sendiri, semua harus berjalan bersama, ikuti komando dengan strategi dan perencanaan yang matang.
Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi napak tilas perjuangan para mujahid, khususnya para santri pejuang kemerdekaan yang jasanya kerap terabaikan. Dari pesantren-pesantren lahir pejuang tangguh yang mengangkat senjata, mengobarkan semangat rakyat, dan mempertaruhkan nyawa demi merah putih. Kini, generasi penerus melangkah di jejak mereka, bukan di medan perang, tetapi di medan pengabdian dan pembelajaran.
Di usia 80 tahun kemerdekaan, Pondok Pesantren Babussalam Socah ingin menanamkan pesan: kemerdekaan yang kita nikmati hari ini adalah buah dari perjuangan panjang yang penuh pengorbanan. Dan menjaga kemerdekaan itu bukan hanya tugas para pahlawan masa lalu, tetapi tanggung jawab setiap generasi hari ini.
Dari sembilan regu yang melangkah malam itu, setiap keringat yang menetes dan setiap napas yang dihela adalah bukti bahwa semangat perjuangan tidak boleh pudar. Bagi Babussalam, kemenangan sesungguhnya adalah saat para santri pulang dengan jiwa yang lebih kuat, hati yang lebih lapang, menjadi kesatria dan tekad yang lebih bulat untuk menjadi pejuang di jalan kebaikan. Barokallahufikum santri-santri hebat!.
-Ust. safa-





