Disusun oleh : Prof. Maksum Radji
بِسْمِ ٱللَّٰهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
اَلسَلامُ عَلَيْكُم وَرَحْمَةُ اَللهِ وَبَرَكاتُهُ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ، اَلَّذِيْ أَنْزَلَ الْقُرْاٰنَ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَ
وَجَعَلَ رَمَضَانَ تَرْبِيَةً لِلْمُؤْمِنِيْنَ
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”. (QS. Al-Hujurat Ayat 12).
Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda,
“Tahukah kalian apa itu ghibah? Yaitu engkau menyebut saudaramu dengan sesuatu yang ia benci. Jika benar, berarti engkau telah menggunjingnya, dan jika tidak benar, maka engkau telah memfitnahnya.”
(HR. Muslim No. 2589).
Jama’ah rahimakumullah,
Dalam suatu kesempatan diskusi di sebuah majelis ilmu, ada seorang jama’ah yang bertanya, apakah ghibah dapat membatalkan puasa?
Dalil-dalil diatas merupakan petunjuk bagi orang-orang Mukmin yang melarang keras tiga hal yaitu, berprasangka buruk (su’uzdan), mencari-cari kesalahan orang lain (tajassus), dan menggunjing (ghibah).
Dalam Al-Qur’an surah Al-Hujurat Ayat 12) di atas tersurat bahwa ghibah seperti memakan daging saudara sendiri yang sudah mati, menegaskan bahwa perbuatan ini adalah dosa yang dapat merusak persaudaraan.
Dalam Islam, ghibah diartikan sebagai menyebutkan keburukan seseorang yang jika ia mendengarnya, ia akan merasa tersinggung atau tidak senang.
Ghibah bukan hanya terjadi melalui ucapan, tetapi juga dapat muncul dalam bentuk tulisan, sindiran, bahkan komentar negatif di media sosial.
Karena itulah, maka ghibah dilarang dan termasuk salah satu perbuatan dosa.
Lantas bagaimana menjawab pertanyaan salah seorang jama’ah tentang hukum ghibah waktu berpuasa di bulan Ramadhan?
Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’ Syarhul Muhaddzab menjelaskan:
“Apabila seseorang melakukan ghibah saat puasa, maka ia berdosa dan tidak membatalkan puasanya menurut mazhab Syafi’i, Maliki, Hanafi, dan Hanbali. Namun menurut Imam Al-Auza’i, puasanya batal dan wajib di qadha.”
Sedangkan menurut Syekh Sa’id bin Muhammad Baisyan dalam Kitab Busyral Karim, disebutkan bahwa,
“Apabila seseorang menggunjing, maka ia mendapatkan dosa ghibah dan pahala puasanya batal, tetapi puasanya tetap sah.”
Dengan demikian, menurut mayoritas ulama sepakat bahwa ghibah tidak membatalkan puasa, namun menghapus pahala di dalamnya.
Jama’ah rahimakumullah,
Terdapat kisah hikmah yang berkaitan dengan ghibah ini, yang perlu kita ambil ibroh-nya.
Kisah tersebut tertulis dalam kitab Irsyadul ‘Ibad karya Syekh Zainuddin Al Malibari, yang dinukil dari Kitab Musnad Imam Ahmad.
Dikisahkan bahwa dahulu pada masa Rasulullah, ada dua wanita yang sedang berpuasa. Menjelang akhir siang, mereka berdua merasa sangat lapar dan haus hingga tak lagi sanggup menahannya bahkan mereka hampir pingsan. Mereka pun lantas mengirim seseorang kepada Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam untuk meminta izin berbuka puasa.
Namun, ternyata Rasulullah tidak langsung mengabulkan permintaan kedua orang wanita tersebut.
Setelah diam sejenak, Rasulullah justru mengirimkan sebuah wadah kepada utusan kedua perempuan tersebut, seraya beliau bersabda,
“Katakan kepada mereka berdua, muntahkanlah apa yang telah mereka makan!”
Setelah utusan dari dua orang perempuan tadi sampai di rumahnya, dan memberikan mangkok dari Rasulullah, maka salah satu dari mereka tiba-tiba muntah.
Setengah wadah berisi darah segar dan daging mentah, begitu pula dengan yang satu orang lainnya, hingga wadah itu penuh.
Orang-orang yang melihatnya pun lantas merasa heran.
Tak berselang lama Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam berkata,
“Dua wanita ini memang sejatinya berpuasa, tetapi mereka berbuka dengan sesuatu yang diharamkan Allah. Mereka saling duduk bersama lalu menggunjing orang lain. Inilah daging manusia yang telah mereka makan.”
Saudaraku,
Dari kisah hikmah di atas kita dapat mengambil pelajaran bahwa kendatipun bulan Ramadhan penuh dengan keistimewaan, mulai dari dilipatgandakannya pahala ibadah, luasnya ampunan Allah Subhanallahu wa Ta’ala kepada orang-orang yang sedang berpuasa, kita juga harus berhati-hati terhadap hal hal yang dapat menghapus pahala ibadah, terutama pahala puasa.
Makna dari kisah di atas adalah marilah kita jauhi segala hal yang dilarang syariat Islam selama berpuasa bulan Ramadhan.
Agar kita dapat meraih keutamaan ibadah secara maksimal, dan menjalankan perintah Allah dengan sebaik-baiknya, serta tetap istiqamah di jalan ketaatan.
Salah satu kebiasaan yang tanpa sadar dapat merusak pahala puasa adalah ghibah atau membicarakan keburukan dan menfitnah orang lain.
Ghibah saat berpuasa adalah perbuatan yang sangat merugikan karena dapat menghapus pahala puasa, meskipun tidak membatalkan ibadah, namun ghibah membuat nilai puasa berkurang atau bahkan hilang.
Umat Islam hendaknya menjaga lisan dan tulisan dari keburukan, terutama di bulan Ramadhan. Dengan demikian, puasa yang dijalankan bukan hanya sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga benar-benar menjadi sarana untuk meraih ketaqwaan.
Oleh sebab itu, agar puasa kita tidak sia-sia, marilah kita hindari perbuatan menggunjing/ghibah ataupun gosip dengan cara memperbanyak dzikir dan istighfar ketika tergoda untuk membicarakan orang lain, menghindari berkumpul dan berinteraksi dengan orang-orang yang suka bergunjing, serta menggunakan media sosial dengan bijak guna menghindari dan menjauhi perbincangan fitnah yang dapat menghapus pahala puasa.
Yaa Allah, Yang Maha Pengasih, bimbinglah kami dalam menjalankan ibadah puasa dan qiyamullail selama bulan Ramadhan, jauhkan jauhkan kami dari kesia-siaan dan perbuatan dosa. Yaa Rabb, anugrahilah kami agar selalu mengingat-Mu dengan taufik-Mu, wahai Yang Maha Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang tersesat.”
“Yaa Rabb, hapuskanlah nama kami dan nama kedua orang tua kami dari siksa api neraka”.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
Aamiin yaa Rabbal Aalamiin.
*) Disarikan dari beberapa sumber.





