
Disusun oleh : Prof. Maksum Radji
بِسْمِ ٱللَّٰهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
اَلسَلامُ عَلَيْكُم وَرَحْمَةُ اَللهِ وَبَرَكاتُهُ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ، اَلَّذِيْ أَنْزَلَ الْقُرْاٰنَ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَ
وَجَعَلَ رَمَضَانَ تَرْبِيَةً لِلْمُؤْمِنِيْنَ
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman,
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْکُمُ الصِّيَا مُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِکُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa,”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 183).
Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda,
“Puasa adalah perisai, maka hendaklah orang yang berpuasa tidak berkata kotor dan tidak berteriak-teriak.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalil-dalil di atas menunjukkan bahwa melalui puasa tubuh dan pikiran dilatih guna menghadapi berbagai tantangan modern yang selalu berubah. Keseimbangan bukan berarti kekurangan, tetapi memberi ruang bagi tubuh dan jiwa untuk beradaptasi, memperkuat dan meningkatkan ketahanan fisik, mental, dan sosial.
Jama’ah Rahimakumullah,
Alkisah di sebuah kota besar yang selalu sibuk, ada seorang lelaki
berusia 60 tahun, sebut saja Pak Arif, yang sering merasa lelah, mudah sakit, dan khawatir tentang kesehatannya. Dokter mengatakan bahwa dia mengalami peradangan kronis ringan, yang dikenal dengan inflammaging.
Fenomena peradangan kronis ringan ini sering muncul pada usia pra Lansia, yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, diabetes, dan gangguan metabolik lainnya.
Pak Arif merasa frustrasi, dia telah mencoba berbagai suplemen, olahraga, dan diet, tetapi tubuhnya tampak tidak kunjung membaik.
Suatu hari, anaknya memperkenalkan konsep puasa
berselang (intermittent fasting), yaitu menahan makan selama periode tertentu untuk memberi kesempatan tubuh “beristirahat”.
Awalnya Pak Arif bersikap skeptis. Bagaimana mungkin,
menahan lapar dapat membantu tubuh menjadi sehat?
Namun, dengan bimbingan seorang ahli gizi dan supervisi dari dokter, dia mencoba berpuasa selama 12 – 14 jam sehari.
Hasilnya hanya dalam beberapa minggu kemudian, Pak Arif mulai merasakan efeknya. Energinya meningkat, tidur lebih nyenyak, dan kelelahannya berkurang. Lebih mengejutkan, hasil laboratoriumnya menunjukkan penurunan kadar beberapa biomarker inflamasi antara lain kadar sitokin, pro-inflamasi, IL-6 dan TNF-α.
Tubuhnya mulai merespons puasa dengan baik, sistem imunnya diremajakan, peradangan berkurang, dan sel-sel imun yang lebih tua digantikan dengan yang baru, lebih sehat dan lebih efisien.
Puasa dan Sistem Imunitas tubuh.
Tubuh kita ibarat sebuah kota yang penuh aktivitas. Setiap hari, sel-sel imun bertugas menjaga “kota” tetap aman dari mikroba patogen, toksin, dan kerusakan sel internal. Namun seiring bertambahnya usia, sistem imun bisa melemah dan bahkan mulai menyerang diri sendiri, menghasilkan peradangan ringan kronis yang diam-diam merusak jaringan tubuh. Fenomena inilah yang disebut inflammaging.
Ketika seseorang berpuasa, terutama puasa di bulan suci Ramadhan selama 30 hari, maka secara fisiologis, akan menurunkan kadar glukosa, kadar lemak, insulin, dan asam amino tertentu. Sehingga mengubah status sel-sel dalam tubuhnya, dari keadaan cukup nutrisi menuju keadaan defisit energi.
Pada saat berpuasa Ramadhan selama 13 – 14 jam, mulai dari waktu imsyak hingga waktu berbuka puasa di Indonesia, tanpa asupan kalori, maka simpanan glikogen hati dan simpanan lemak tubuh akan secara maksimal diuraikan dan digunakan oleh sel-sel tubuh sebagai sumber energi.
Di sinilah puasa menjadi “strategi kota pintar”. Ketika tubuh dalam keadaan puasa, ia memicu suatu proses seluler untuk membersihkan limbah dan organel (komponen sel) yang rusak.
Bayangkan bagaikan kota yang penuh sampah, jika tidak dibersihkan, sampah menumpuk, saluran akan tersumbat, dan lingkungan menjadi berbahaya. Kondisi sel-sel tubuh ketika sedang puasa inilah yang kita kenal dalam Biologi Seluler dan Molekuler sebagai fenomena Autophagy.
Secara harfiah autofagi berarti “memakan sendiri” atau “melahap sendiri”. Proses autophagy ini merupakan metabolisme yang sangat penting bagi kesehatan tubuh secara keseluruhan. Istilah “melahap sendiri” mengacu pada proses ketika sel-sel tubuh yang sudah tua dan rusak dibersihkan dan komponennya didaur ulang menjadi sel-sel baru. Tubuh manusia, mengandung triliunan sel. Setiap sel memiliki komponen-komponen penting, agar sel tetap berfungsi dengan baik.
Seiring dengan berjalannya waktu, molekul yang tidak diinginkan menumpuk dalam sel dan dapat merusak sel, serta membuat sel tidak dapat berfungsi dengan baik. Komponen-komponen sel yang rusak ini bisa menjadi sampah dan mengganggu kinerja sel-sel tubuh yang sehat.
Autophagy bagaikan pasukan kebersihan seluler, yang membersihkan “sampah biologis”, sehingga kota (tubuh) menjadi lebih sehat.
Perjalanan ilmiah penelitian tentang fenomena
autophagy ini mencapai puncaknya ketika Prof. Yoshinori Ohsumi, seorang ilmuan Jepang, dianugerahi hadiah Nobel dalam bidang kedokteran pada tahun 2016. Hasil penelitian nya yang luar biasa ini, berawal dari riset yang tampak sederhana yaitu mempelajari sel ragi (Saccharomyces cerevisiae), yaitu organisme model lama yang dianggap terlalu “biasa” untuk menjawab pertanyaan besar dalam biologi seluler dan molekuler.
Prof. Ohsumi menunjukkan bahwa ketika nutrisi dibatasi, sel tidak pasif menunggu kematian. Sebaliknya, sel mengaktifkan
mekanisme pembersihan internalnya, dimana komponen sel yang rusak dikemas dalam vesikel lisosom dan didegradasi dan di daur ulang menjadi komponen sel baru untuk mempertahankan kehidupannya.
Puasa dan Regenerasi Sel.
Ketika seseorang berpuasa, maka tubuh akan menciptakan kondisi krisis nutrisi dan stres ringan yang menantang sel tubuh secara alami.
Kondisi ini memicu jalur pertahanan seluler, peningkatan autophagy, dan sinyal regenerasi sel.
Dengan kata lain, puasa Ramadhan juga bertindak sebagai pemicu alami yang memfilter dan memperkuat populasi sel-sel tubuh seseorang ketika berpuasa.
Peradangan atau inflamasi ringan yang dialami oleh Pak Arif di atas, adalah akar dari berbagai penyakit degeneratif seperti kanker, gangguan jantung, diabetes dan gangguan neurodegeneratif.
Selain itu autophagy juga bersifat anti-aging dengan meremajakan sel-sel tubuh sehingga dapat berumur lebih panjang.
Sehingga puasa memberikan waktu bagi tubuh untuk membersihkan dirinya sendiri, ketika tubuh tidak mendapatkan asupan nutrisi.
Dalam kehidupan sehari-hari, memberi jeda dari kesibukan atau tekanan psikologis memungkinkan pikiran dan tubuh kita memiliki waktu untuk menata ulang diri, sama seperti kondisi sel-sel ketika seseorang berpuasa.
Saudaraku,
Puasa merupakan ibadah yang menguatkan iman dan taqwa, sekaligus memberikan manfaat pada kesehatan fisik dan mental yang signifikan.
Secara spiritual, puasa meningkatkan ketaatan, kesabaran, dan pengendalian diri. Dari sisi aspek kesehatan, puasa dapat memperbaiki metabolisme, menurunkan kolesterol, menstabilkan gula darah, meningkatkan fungsi otak, detoksifikasi tubuh dan meremajakan fungsi sel-sel dalam tubuh kita.
Berdasarkan berbagai hasil penelitian telah dibuktikan bahwa puasa dapat membantu mengatur metabolisme, meningkatkan sensitivitas insulin, dan membantu menstabilkan gula darah, serta meningkatkan fungsi kognitif, memori, termssuk regenerasi sel-sel otak. Puasa juga memicu pelepasan endorfin yang meningkatkan suasana hati dan memberikan ketenangan jiwa. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat-Nya bagi kita semua.
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنَّا
“Yaa Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan menyukai pengampunan, maka ampunilah kami”.
“Yaa Allah, janganlah Engkau jadikan puasa ini yang terakhir dalam hidupku. Jika Engkau menjadikannya sebagai yang terakhir, maka jadikanlah aku sebagai orang yang Engkau rahmati dan jangan jadikan aku sebagai orang yang Engkau jauhkan dari rahmat-Mu.”
Aamiin yaa Rabbal Aalamiin.
*). Dirangkum dari beberapa sumber.




