Orang Terdekat Maling Motor, Siapa yang Salah?

Foto saat di Pengadilan Negeri Bangkalan

 

Hari ini saya mendapat pelajaran hidup yang begitu dalam. Saya dipanggil ke Pengadilan Negeri Bangkalan sebagai saksi dalam kasus pencurian motor. Ironisnya, kasus itu bermula dari keteledoran saya sendiri saat memarkir kendaraan. Kelalaian kecil yang mungkin terlihat sepele, ternyata menjadi celah yang memicu terjadinya pencurian.

Di ruang sidang itu, saya melihat para terdakwa mengenakan peci. Wajah mereka tampak lesu dan penuh penyesalan. Di samping mereka ada anak dan istri yang ikut menanggung malu dan kesedihan. Saat itu saya berpikir: mereka bukan monster. Mereka manusia. Manusia yang bisa salah, bisa tergelincir, bisa berdosa.

Lalu muncul pertanyaan besar dalam hati saya: ketika seseorang jatuh ke dalam lembah kriminalitas—mencuri, memakai narkoba, merampok, dan berbagai pelanggaran lainnya—siapa sebenarnya yang paling salah?

Apakah sepenuhnya pelaku? Ataukah masyarakat dan sistem di sekelilingnya juga memiliki andil moral?

Orang Tua: Madrasah Pertama

Pihak pertama yang paling bertanggung jawab adalah orang tua. Rumah adalah sekolah pertama, dan ayah-ibu adalah guru pertama seorang anak. Dalam Islam, pendidikan bukan dimulai di sekolah, tetapi sejak di pangkuan keluarga.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan betapa besar pengaruh orang tua terhadap arah hidup seorang anak. Anak tidak lahir sebagai penjahat. Lingkungan keluargalah yang sangat menentukan apakah ia tumbuh menjadi pribadi yang baik atau sebaliknya.

Al-Qur’an juga mengingatkan:

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6)

Mendidik anak bukan hanya memberi makan dan pakaian, tetapi juga memberi akhlak, kasih sayang, perhatian, dan keteladanan. Banyak anak tersesat bukan karena mereka bodoh, tetapi karena tumbuh tanpa arah, tanpa perhatian, dan tanpa rumah yang benar-benar menjadi tempat pulang.

Guru dan Ustad: Jangan Hanya Mengajar, Tapi Mendidik

Yang kedua adalah guru, ustad, dan para pendidik. Pendidikan bukan sekadar memindahkan ilmu dari kepala guru ke kepala murid. Pendidikan sejati adalah membentuk karakter.

Hari ini kita hidup di zaman di mana banyak orang pintar, tetapi tidak sedikit yang kehilangan nurani. Banyak yang berpendidikan tinggi, tetapi justru menggunakan kecerdasannya untuk menipu, korupsi, atau merugikan orang lain.

Karena itu, guru dan ustad memiliki tanggung jawab moral yang sangat besar. Jangan sampai seorang guru hanya sibuk menyelesaikan kurikulum, tetapi gagal menyelesaikan persoalan akhlak murid-muridnya.

Imam Al-Ghazali pernah mengingatkan bahwa seorang pendidik sejati bukan hanya pengajar ilmu, tetapi pembimbing jiwa. Sebab ilmu tanpa akhlak dapat melahirkan manusia yang cerdas namun berbahaya.

Para kiai, ustad, dan guru harus menjadi teladan. Anak-anak lebih mudah meniru sikap daripada mendengar nasihat. Ketika pendidikan kehilangan ruh keteladanan, maka yang lahir hanyalah generasi yang pandai berbicara tetapi miskin moral.

Pemerintah dan Sistem Sosial

Yang ketiga adalah stakeholder dan pemerintah. Mereka memiliki tanggung jawab besar dalam membangun sistem yang sehat dan adil.

Kejahatan sering kali tidak lahir dari ruang kosong. Kemiskinan, pengangguran, ketimpangan sosial, sistem hukum yang lemah, hingga akses pendidikan yang buruk dapat menjadi faktor yang mendorong seseorang jatuh pada pelanggaran.

Ekonomi yang sulit bisa mendorong sebagian orang kehilangan harapan. Ketidakadilan dapat melahirkan kekecewaan sosial. Sistem yang rusak lambat laun menciptakan lingkungan yang tidak sehat bagi masyarakat.

Tentu ini bukan berarti membenarkan kejahatan. Salah tetap salah. Mencuri tetap dosa dan tindak pidana. Namun kita juga harus jujur bahwa lingkungan sosial dan sistem yang buruk dapat menjadi pemicu munculnya berbagai penyimpangan.

Karena itu pemerintah tidak cukup hanya menghukum pelaku. Negara juga harus menghadirkan pendidikan yang baik, lapangan kerja, keadilan hukum, serta sistem sosial yang manusiawi.

Kita Semua Punya Andil

Peristiwa hari ini membuat saya sadar bahwa kejahatan sering kali bukan hasil dari satu sebab tunggal. Ia lahir dari banyak kelalaian yang saling bertumpuk: keluarga yang gagal mendidik, guru yang gagal membina, masyarakat yang cuek, sistem yang lemah, bahkan keteledoran kecil seperti yang saya lakukan.

Mungkin benar, pelaku adalah orang yang melakukan pencurian. Tetapi bisa jadi masyarakat di sekitarnya ikut menyumbang sebab-sebab yang membuatnya sampai di titik itu.

Karena itu, membangun masyarakat yang baik bukan hanya tugas polisi dan pengadilan. Itu tugas bersama. Orang tua harus memperbaiki rumahnya. Guru harus memperbaiki pendidikannya. Pemerintah harus memperbaiki sistemnya. Dan kita semua harus memperbaiki diri masing-masing.

Sebab ketika satu orang jatuh dalam kejahatan, sesungguhnya itu bukan hanya kegagalan individu. Kadang itu juga cermin kegagalan bersama.
Allah yahfidzuna

Bagikan Postingan Ini :

Leave a Reply