foto belajar siang santri
Di tengah rutinitas pesantren yang padat, ada satu pemandangan kecil yang barangkali luput dari perhatian banyak orang: beberapa santri yang terlihat dengan kaos oblongnya, yang sengaja di siang hari meninggalkan hak istirahatnya, demi satu hal—tambahan waktu belajar. Mereka tahu, jam-jam reguler telah penuh dengan pelajaran formal. Maka, tanpa mengganggu jadwal yang ada, mereka mencari celah, dan menemukan waktu istimewa di saat seharusnya para santri istirahat, mereka justru membuka kitab.
yang lebih menggetarkan, bukan hanya santri yang berkorban. Ustadznya pun sama—rela tidak tidur siang demi menemaninya belajar. Padahal, bagi sebagian orang, tidur siang adalah hak yang tidak boleh diganggu. Tapi tidak bagi mereka. Bagi mereka, ilmu lebih mulia dari kantuk. Waktu lebih berharga dari lelap. Dan kesempatan menuntut ilmu, terlebih saat ada yang sungguh-sungguh ingin belajar, tidak layak disia-siakan.
Namun, adegan kecil ini, seagung dan seindah apa pun, sesungguhnya belumlah sebanding dengan perjuangan para ulama terdahulu. Mereka menempuh ribuan kilometer hanya untuk satu hadits. Mereka menjual harta benda, meninggalkan kampung halaman, bahkan rela hidup dalam kekurangan demi bisa duduk di majelis ilmu. Waktu, tenaga, bahkan dana, mereka habiskan tanpa ragu—semata-mata karena cinta kepada ilmu dan keyakinan bahwa ilmu adalah cahaya yang tak ternilai harganya.
Kisah santri dan ustadz itu memang patut diteladani. Tapi lebih dari itu, ia seharusnya menjadi jembatan untuk mengenal dan menelusuri jejak para ulama besar. Jejak yang penuh pengorbanan dan kesungguhan. Sebab jalan ilmu bukan jalan yang mudah, dan sejarah telah mencatat: tidak ada kemuliaan ilmu tanpa pengorbanan.
Safa
Pondok Babussalam Socah
Menampung Embun Membuat Telaga





