Hanya Sembilan Ramadhan Sang Rasul Mendapatinya, dan Menjadi Hadiah Seumur Hidup bagi Umatnya

Oleh: Ust. Abdillah Safa, M.Si (Mudir Pondok Babussalam Socah)

 

Ketika kewajiban puasa Ramadhan disyariatkan pada tahun kedua hijrah, fase baru dimulai dalam sejarah umat Islam. Sejak saat itu hingga wafat beliau pada tahun 11 H di Madinah, Nabi Muhammad hanya mendapati sembilan Ramadhan sebagai puasa wajib. Sembilan kali beliau membimbing umat dalam qiyam, tilawah, infak, jihad, dan pembinaan ruhani. Sembilan kali bulan suci itu hadir dalam kehidupan beliau sebagai madrasah iman.

Secara angka, sembilan terasa sedikit. Namun secara kualitas, sembilan itu melahirkan generasi terbaik. Di dalamnya terjadi Badar yang menentukan arah sejarah, Fathu Makkah yang membuka pintu ampunan massal, serta penguatan iman para sahabat yang kelak memikul risalah ke seluruh penjuru dunia. Waktu yang singkat, tetapi sarat makna. Kuantitas yang terbatas, tetapi kualitas yang melimpah.

Di titik inilah hati seorang mukmin semestinya berhenti sejenak untuk merenung. Jika Rasulullah ﷺ—manusia paling sempurna dalam pengabdian—hanya sembilan Ramadhan, sementara sebagian kita telah diberi dua puluh, tiga puluh, bahkan lebih, maka fakta ini bukan sekadar informasi sejarah. Ia adalah cermin. Ia menggugah kesadaran tentang betapa besar nikmat yang sedang kita genggam.

Banyaknya Ramadhan yang kita temui bukan bukti keutamaan kita atas beliau—mustahil demikian—melainkan bukti kemurahan Allah yang masih memberi kita kesempatan. Rasulullah ﷺ telah menunaikan misi dengan kesempurnaan kualitas, sehingga sembilan Ramadhan cukup baginya. Kita, yang kualitasnya belum sebanding, justru diberi perpanjangan waktu. Bukan karena lebih mulia, tetapi karena masih membutuhkan pembinaan.

Di sinilah rasa syukur seharusnya tumbuh. Syukur lahir dari kesadaran bahwa tambahan kesempatan adalah anugerah. Setiap Ramadhan yang kita temui adalah bukti bahwa Allah belum menutup pintu perbaikan bagi kita. Masih ada waktu untuk menambal kekurangan, memperdalam khusyuk, memperbanyak tilawah, dan memperhalus akhlak.

Kesadaran ini kemudian menemukan landasannya dalam firman Allah:

 لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
(QS. Ibrahim: 7)

Ayat ini seakan menjelaskan mengapa kesempatan itu terus hadir. Allah menetapkan hukum bahwa syukur melahirkan penambahan. Pada bagian pertama ayat, jawab syaratnya berbentuk fi’il yang sangat dikuatkan: لَأَزِيدَنَّكُمْ. Ada lam taukid dan nun taukid tsaqilah yang menunjukkan kepastian dan kesungguhan. Allah menegaskan penambahan itu sebagai tindakan aktif dan langsung dari-Nya. Penambahan adalah ekspresi rahmat yang nyata.

Sebaliknya, ketika menyebut kufur nikmat, terlihat beta kasih sayang Allah kepada hambanya, bukannya seperti bentuk sebelumnya syarat jawab, struktur kalimatnya justru berubah menjadi jumlah ismiyyah: إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ. Tidak ada fi’il aktif langsung yang menyasar manusia. Secara balaghah, ini memberi kesan bahwa rahmat lebih dahulu dan lebih kuat ditampakkan daripada murka. Bahkan dalam ancaman pun, bahasa ilahi menyisakan ruang kelembutan. Seakan-akan Allah memberi waktu untuk kembali. Namun keadilan tetap berjalan bagi mereka yang tetap dalam kekufuran sampai akhir hayat. ini sejalan dengan isyarat ancaman bagi mereka yang mendapati Ramadhan namun tak mendapatkan ampunan.

Maka tambahan Ramadhan yang kita alami bisa dibaca sebagai manifestasi hukum لَأَزِيدَنَّكُمْ. Allah masih menambah kesempatan. Namun ayat itu juga mengingatkan bahwa penambahan bukan sekadar kuantitas, melainkan kualitas keberkahan. Penambahan yang sejati adalah bertambahnya iman, ketundukan, dan kedekatan kepada Allah (Taqwa).

Inilah inti syukur yang didefinisikan para ulama sebagai الثناء على النعم والعمل بالطاعة—memuji nikmat dan menggunakannya untuk ketaatan. Jika kita memuji Allah karena dipertemukan dengan Ramadhan tetapi tidak memanfaatkannya untuk memperbaiki diri, maka syukur itu belum sempurna. Syukur yang utuh adalah ketika setiap Ramadhan membuat kita lebih baik dari sebelumnya.

Dari sini jelas bahwa perbandingan antara sembilan Ramadhan Rasulullah ﷺ dan puluhan Ramadhan kita bukan untuk membanggakan jumlah, tetapi untuk menguji kualitas. Beliau menunjukkan bahwa sedikit waktu yang dipenuhi kesungguhan lebih berharga daripada waktu panjang yang kosong makna. Kita diberi lebih banyak bukan agar merasa aman, tetapi agar memperbaiki kualitas.

Karena itu, setiap Ramadhan yang datang seharusnya menghadirkan dua perasaan sekaligus: haru dan tanggung jawab. Haru karena Allah masih memberi kesempatan. Tanggung jawab karena tambahan itu harus melahirkan perubahan. Jika kualitas iman tidak bertambah, maka kuantitas tahun tidak berarti apa-apa.

Sembilan Ramadhan Sang Rasul telah membuktikan bahwa kualitas melampaui jumlah. Puluhan Ramadhan dalam hidup kita semoga menjadi bukti bahwa kita memahami hukum syukur: bahwa setiap nikmat yang disyukuri akan ditambah—bukan hanya dalam angka, tetapi dalam cahaya iman dan kedalaman takwa. Semoga Allah memudahkan langkah kita untuk menggapai semua Fadhilah Ramadhan tahun ini. ya Rabb 🤲🏻

Bagikan Postingan Ini :

Leave a Reply