Disusun oleh : Ustadz Dwi Jaka Anandika Kutsi, S.Ag., M.Pd.
Suatu siang di bulan Ramadhan, seorang siswa kelas XI pernah berkata dengan jujur kepada gurunya:
“Pak, saya sebenarnya percaya puasa itu wajib. Tapi jujur saja… saya tidak merasa ada yang berubah dalam hidup saya ketika saya puasa.” Kalimat itu tidak diucapkan dengan nada menantang. Tidak ada pemberontakan di sana. Yang ada justru kebingungan. Ia tetap sahur. Tetap ikut tarawih kadang-kadang. Tetapi dalam dirinya ada ruang kosong yang belum terisi. Ia tidak menolak agama. Ia hanya belum menemukan makna. Dan mungkin, ia tidak sendirian.
Anak-anak muda hari ini hidup dalam dunia yang sangat berbeda dari generasi sebelumnya. Dunia yang memberi respons cepat. Upload video, langsung ada notifikasi. Belajar skill baru, langsung bisa dimonetisasi. Kerja freelance, langsung dibayar. Segalanya terasa konkret. Sementara pahala? Tidak terlihat. Tidak terukur. Tidak bisa di-screenshot.
Survei Alvara Research Center (2022) menunjukkan bahwa prioritas utama Gen Z Indonesia adalah keamanan finansial, pengembangan diri, dan kebahagiaan personal.¹ Agama tetap dianggap penting, tetapi dalam praktik keseharian, pertimbangan ekonomi dan aktualisasi diri sering kali lebih dominan. Ini bukan tanda bahwa mereka meninggalkan iman. Tetapi cara mereka memahami nilai sedang berubah.
Di sebuah kota lain, seorang mahasiswa memilih tidak berpuasa. Alasannya sederhana: “Saya lagi banyak tugas dan kerja part time. Kalau puasa, saya lemas. Lagipula, saya belum merasa butuh.” Ia bukan ateis. Ia masih salat sesekali. Tapi baginya, puasa terasa seperti beban tambahan, bukan kebutuhan. Jika kita marah, mungkin kita kehilangan kesempatan memahami.
Viktor Frankl menyebut bahwa manusia digerakkan oleh will to meaning, yaitu keinginan untuk menemukan makna hidup.² Ketika makna itu kabur, muncullah apa yang ia sebut sebagai existential vacuum, kehampaan eksistensial.³ Kehampaan ini tidak selalu terlihat. Kadang ia hadir dalam bentuk lelah yang tak jelas sebabnya. Gelisah tanpa arah. Atau merasa hidup berjalan, tapi tidak terasa berarti.
Data nasional memperlihatkan bahwa sekitar 34,9% remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental dalam satu tahun terakhir.⁴ Secara global, WHO menyebut satu dari tujuh remaja mengalami gangguan mental.⁵ Mungkin sebagian dari mereka bukan kehilangan agama, tetapi kehilangan makna.
Selama ini, kita sering menjelaskan puasa dengan kalimat: “Kalau kamu puasa, dapat pahala.” Itu benar. Tetapi mungkin belum cukup. Gordon Allport membedakan antara religiusitas ekstrinsik dan intrinsik.⁶ Jika seseorang menjalankan agama hanya karena imbalan atau tekanan luar, maka motivasinya rapuh. Tetapi jika agama menjadi orientasi hidup dari dalam, maka ia lebih kokoh.⁷
Teori motivasi modern pun mengatakan hal yang sama. Motivasi yang tumbuh dari dalam diri lebih tahan lama dibanding motivasi berbasis hadiah eksternal.⁸ Jadi mungkin, anak-anak muda hari ini tidak menolak puasa. Mereka hanya belum melihat hubungannya dengan kehidupan nyata mereka.
Padahal Al-Qur’an tidak mengatakan tujuan puasa adalah pahala. Yang disebut adalah: لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ “La‘allakum tattaqūn.” Agar kamu bertakwa. Agar kamu lebih sadar. Lebih jernih. Lebih mampu mengendalikan diri. Rasulullah صلى الله عليه وسلم menyebut puasa sebagai perisai.⁹ Perisai dari apa? Dari dorongan sesaat yang sering membuat kita menyesal. Di era digital, kemampuan menunda kepuasan adalah kekuatan langka. Puasa justru melatih itu.
Kenneth Pargament menjelaskan bahwa agama dapat menjadi cara sehat menghadapi tekanan hidup.¹⁰ Religiusitas yang matang membantu seseorang lebih kuat menghadapi stres dan krisis.¹¹
Bayangkan seorang remaja yang belajar menahan marah selama sebulan. Menahan keinginan membalas komentar pedas di media sosial. Menahan dorongan konsumtif. Bukankah itu latihan mental yang luar biasa?
Imam Al-Ghazali sudah lama menjelaskan bahwa puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi menjaga hati dan pikiran.¹² Ibn Qayyim menegaskan bahwa ibadah adalah proses penyucian jiwa.¹³ Artinya, puasa bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah workout spiritual.
Data BPS menunjukkan keterlibatan usia muda dalam berbagai tindak kriminal masih menjadi perhatian serius.¹⁴ Ini bukan sekadar masalah hukum. Ini soal arah. Mungkin yang perlu kita perbaiki bukan generasinya, tetapi narasinya. Alih-alih hanya berkata, “Kalau tidak puasa berdosa,” mungkin kita bisa berkata, “Puasa membantu kamu jadi lebih kuat.” Alih-alih hanya menjanjikan surga di akhirat, kita juga bisa menunjukkan ketenangan di dunia. Karena generasi ini tidak anti agama. Mereka hanya butuh alasan yang masuk akal dan terasa relevan.
Dan ketika puasa dipahami sebagai jalan menemukan ketenangan, fokus, dan kekuatan diri, ia tidak lagi terasa berat bahkan bisa menjadi kebutuhan.
Catatan kaki:
1. Alvara Research Center, Indonesia Gen Z and Millennial Report 2022 (Jakarta: Alvara Research Center, 2022).
2. Viktor E. Frankl, Man’s Search for Meaning (Boston: Beacon Press, 2006), 104.
3. Ibid., 121.
4. Center for Reproductive Health UGM, Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022 (Yogyakarta: UGM, 2022).
5. World Health Organization, World Mental Health Report: Transforming Mental Health for All (Geneva: WHO, 2022).
6. Gordon W. Allport and J. Michael Ross, “Personal Religious Orientation and Prejudice,” Journal of Personality and Social Psychology 5, no. 4 (1967): 432–443.
7. Ibid., 434.
8. Edward L. Deci and Richard M. Ryan, Intrinsic Motivation and Self-Determination in Human Behavior (New York: Plenum Press, 1985).
9. Sahih al-Bukhari, no. 1894; Sahih Muslim, no. 1151.
10. Kenneth I. Pargament, The Psychology of Religion and Coping (New York: Guilford Press, 1997).
11. Ibid., 90–115.
12. Abu Hamid al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din, vol. 3 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, n.d.).
13. Ibn Qayyim al-Jawziyyah, Madarij al-Salikin, vol. 1 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1996).
14. Badan Pusat Statistik, Statistik Kriminal 2023 (Jakarta: BPS, 2023).





