Disusun oleh : Prof. Maksum Radji
بِسْمِ ٱللَّٰهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
اَلسَلامُ عَلَيْكُم وَرَحْمَةُ اَللهِ وَبَرَكاتُهُ
الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَعَلَى أله وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ
Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman,
اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ.
وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِۗ.
لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ.
تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍۛ
سَلٰمٌ ۛهِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِ
“Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Allah untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.”
(QS. Al Qadr: 1-5).
Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda,
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِيْ الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
“Carilah Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.”
(HR. Bukhari).
Jama’ah Rahimakumullah,
Malam kemuliaan (Lailatul Qadar) merupakan salah satu peristiwa yang paling istimewa dalam bulan suci Ramadhan.
Oleh sebab itu, umat Islam di seluruh dunia sangat menantikan datangnya malam penuh kemuliaan dan keberkahan ini, yaitu malam yang lebih baik dari seribu bulan, dengan memperbanyak beramal shaleh.
Lantas bagaimana sejarah dan asal usul diturunkannya Lailatul Qadar?
Dikisahkan dalam Kitab Muqasyafatul Qulub karya Imam Al-Ghazali, bahwasanya pada suatu malam di bulan Ramadhan, Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam sedang berkumpul dengan para sahabat. Tiba-tiba seorang sahabat melihat Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam tersenyum lalu ia bertanya,
“Apa yang membuatmu tersenyum wahai Rasulullah?”
Rasulullah menjawab,
“Diperlihatkan kepadaku di hari akhir ketika semua manusia dikumpulkan di padang mahsyar, semua Nabi dan Rasul berkumpul bersama umatnya masing-masing kemudian masuk ke surga. Ada salah seorang nabi dengan membawa pedang, tidak memiliki pengikut satupun, masuk ke dalam surga. Dia adalah Nabi Syam’un.”
Dikisahkan bahwa, nabi Syam’un al-Ghazi Alaihi Salam, memiliki kekuatan super yang luar biasa dan tak terkalahkan. Allah Subhanallahu wa Ta’ala memberikan mukjizat kepada Nabi Syam’un bisa melunakkan besi, memutus rantai yang besar serta merobohkan istana.
Nabi Syam’un al-Ghazi berasal dari bani Israil yang diutus oleh Allah ke wilayah Romawi.
Dalam berdakwah, beliau selalu menyebut kalimat tauhid: ”Laa ilaaha ilallah”.
Namun karena begitu sesatnya kaum bani Israil, yang menyembah berhala dan menomorsatukan harta dan kekayaan, maka Nabiullah Syam’un al-Ghazi tidak memiliki pengikut satu orangpun.
Beliau terus berdakwah dengan gigihnya, dan dengan kekuatan yang dimiliki, walaupun hanya sendirian. Nabi Syam’un terus menentang raja yang berkuasa pada waktu itu, dan selalu memenangkan pertempuran melawan kaum kafir. Sampai-sampai Raja dan kaum kafir ketakutan dibuatnya.
Untuk itu, berbagai cara telah dilakukan oleh raja kaum bani Israil untuk melawannya, termasuk mengadakan sayembara kepada siapa saja yang berhasil mengikat dan membawa Nabi Syam’un ke istana, maka akan diberikan imbalan emas dan permata yang sangat banyak, namun selalu gagal.
Maka Raja kemudian mempunyai ide yang licik yaitu tipu daya melalui istri Nabi Syam’un al-Ghazi.
Raja bertanya,
“Wahai istri Syam’un, apakah kamu mencintai suamimu?”
Sang istri menjawab,
“Tentu saja raja”
Kemudian Raja bertanya lagi,
“Kamu tahu kan bahwa suamimu membuat kita semuanya ketakutan”
Sang istri berkata,
“Tentu saya juga tahu itu Raja”
Raja lantas memberikan penawaran kepada istri Nabi Syam’un,
“Maukah kamu menaklukkan suamimu dan membawanya ke istana? Atas keberhasilanmu kelak akan diberikan imbalan berupa emas dan permata yang berlimpah.”
Tergiur akan penawaran sang Raja, maka istri Nabi Syam’un pun menyanggupinya dan berkata,
“Baik Raja, saya siap.”
Kemudian oleh Raja diberikanlah tali untuk mengikat tubuh Nabi Syam’un.
Singkat cerita, setelah istri Nabi Syam’un al-Ghazi berhasil mengikat dengan tali yang kuat ketika Nabi Syam’un al-Ghazi sedang tertidur, maka ketika beliau terbangun lantas bertanya,
“Wahai istriku, apakah engkau yang mengikat tubuhku?”
Sang istri menjawab,
“Aku hanya mencoba seberapa kuatkah dirimu.”
Kemudian tanpa kesulitan tali itu diputus Nabi Syam’un dan terlepas dari tubuhnya.
Percobaan berikutnya dengan tali yang lebih kuat juga tidak berhasil. Akhirnya karena selalu gagal, sang istri menggunakan strategi rayuan. Dia bertanya kepada Nabi Syam’un.
“Wahai suamiku, apakah gerangan yang bisa mengalahkanmu?”
Karena cinta dan sayangnya Nabi Syam’un kepada sang istri, beliau kemudian lantas menjawab,
“Ikatan yang dapat membuatku lemah hanya bila diikat dengan rambutku sendiri.”
Nabi Syam’un memiliki rambut yang sangat panjang. Maka keesokan harinya sang istri pun mengikat tubuh Nabi Syam’un dengan potongan rambutnya.
Benar saja, Nabi Syam’un al-Ghazi lemah tak berdaya, kemudian sang istri mengabarkan kepada Raja Israil dan dibawalah tubuh Nabi Syam’un ke istana.
Di istana Raja Israil, Nabi Syam’un al-Ghazi disiksa dan akan dibunuh secara perlahan. Kedua mata dibutakan, telinga, kaki dan tangannya pun dipotong.
Atas kejadian itu Allah Subhanallahu wa Ta’ala memerintahkan malaikat Jibril turun dan menemui Nabi Syam’un al-Ghazi lalu bertanya,
“Apa yang engkau inginkan wahai Nabiullah.”
Nabi Syam’un menjawab,
“Saya minta ampun atas kesalahan yang seharusnya tidak saya beritahukan kepada siapapun termasuk istri saya. Dan saya meminta agar kekuatan saya dikembalikan hingga bisa menggerakkan tiang istana ini.”
Seketika itu juga kekuatan Nabi Syam’un dikembalikan oleh Allah.
Anggota badan nya yang telah terpotong-potong pun dikembalikan kedua kaki, kedua tangan, telinga dan mata beliau, hingga beliau bisa menghancurkan tiang-tiang dan merobohkan istana. Reruntuhan istana menjatuhi sang Raja Israil, dan para pengikutnya, bahkan istrinya sendiripun meninggal di bawah reruntuhan istana, hanya Nabi Syam’un al-Ghazi saja yang hidup.
Nabi Syam’un al-Ghazi kemudian bersumpah bahwa beliau akan melawan kebatilan dan beribadah selama 1.000 bulan tanpa henti.
Setelah mendengar kisah Nabi Syam’un Al Ghazi Alaihissalam, banyak sahabat Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam yang terharu dan meneteskan air mata.
Lalu bertanyalah sahabat kepada Rasulullah,
“Wahai Rasulullah betapa besar ganjaran yang diterima Nabi Syam’un al-Ghazi AS, beliau memberantas kebatilan selama seribu bulan. Malam nya beliau beribadah dan siangnya berpuasa serta berjihad. Sedangkan kami yang lemah ini, bagaimana mungkin mampu melakukan ibadah seperti itu.”
Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam kemudian terdiam sejenak. Disaat itulah turunlah wahyu dari Allah Subhanallahu wa Ta’ala, melalui malaikat Jibril yaitu surat Al-Qadr ayat 1-5.
Rasulullah kemudian bersabda,
“Burulah malam Lailatul Qadar ini, kalian hanya mengamalkan satu malam dan mendapatkan kemuliaan malam Lailatul Qadar itu, maka kalian akan mendapatkan lebih baik daripada beribadah seribu bulan seperti Nabi Syam’un al-Ghozi.”
Tidak ada yang tahu pasti kapan malam Lailatul Qadar itu hadir di tengah kita. Malam dimana cahaya surga menerangi bumi. Malam dimana Allah Yang Maha Pengasih menghapus dosa-dosa manusia.
Saudaraku,
Sungguh beruntung orang-orang yang dipertemukan dengan Lailatul Qadar, malam terbaik di antara malam-malam yang Allah ciptakan. Salah satu keistimewaannya, ibadah yang dilaksanakan pada malam itu dilipatgandakan pahalanya dan lebih baik dari orang beribadah selama 1.000 bulan.
Dalam sebuah hadits shahih, dari Ibnu Umar ra, ia berkata: Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda,
“Tunggulah Lailatul Qadr pada sepuluh malam terakhir, atau beliau bersabda pada sembilan malam terakhir.”
(HR. Muslim).
Dari hadits di atas, Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam tidak mengatakan satu tanggal pasti.
Petunjuk yang diberikan hanyalah rentang waktu pencarian. Kadang disebut sepuluh malam terakhir, kadang sembilan malam terakhir, kadang tujuh malam terakhir.
Kerahasiaan kapan waktu pasti Lailatul Qadar, justru mengandung hikmah spiritual yang besar. Seandainya malam itu ditentukan secara jelas, mungkin manusia hanya akan beribadah pada satu malam saja.
Dengan dirahasiakannya malam kemuliaan tersebut, memotivasi umat Islam untuk bersungguh-sungguh (mujahadah) dan Istiqomah dalam menghidupkan malam-malam di bulan Ramadhan dengan memperbanyak beribadah, khususnya di 10 malam terakhir bulan suci Ramadhan.
Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anna.”
“Yaa Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau menyukai pemberian maaf, maka maafkanlah kami.”
“Yaa Rabb, pertemukanlah kami dengan Lailatul Qadar, malam yang penuh dengan kemuliaan dan ampunan-Mu.”
Aamiin yaa Rabbal Aalamiin.
*). Dirangkum dari beberapa sumber.





