Disusun oleh : Prof. Maksum Radji
بِسْمِ ٱللَّٰهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
اَلسَلامُ عَلَيْكُم وَرَحْمَةُ اَللهِ وَبَرَكاتُهُ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ الصَّوْمَ حِصْنًا لِأَوْلِيَائِهِ وَ جُنَّةً، وَفَتَحَ لَهُمْ بِهِ أَبْوَابَ الْجَنَّةِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَانَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ صَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَنْفِقُوْا مِنْ طَيِّبٰتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّاۤ اَخْرَجْنَا لَـكُمْ مِّنَ الْاَ رْضِ ۗ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيْثَ مِنْهُ تُنْفِقُوْنَ وَلَسْتُمْ بِاٰ خِذِيْهِ اِلَّاۤ اَنْ تُغْمِضُوْا فِيْهِ ۗ وَا عْلَمُوْۤا اَنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ
“Wahai orang-orang yang beriman! Infaqkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Janganlah kamu memilih yang buruk untuk kamu keluarkan, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya, melainkan dengan memicingkan mata (enggan) terhadapnya. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya, Maha Terpuji.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 267).
Dalam sebuah hadits dari Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma, ia berkata bahwa,
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰـهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ ، وَأَجْوَدُ مَا يَـكُوْنُ فِـيْ رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ ، وَكَانَ جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ يَلْقَاهُ فِـيْ كُـّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَـيُـدَارِسُهُ الْـقُـرْآنَ ، فَلَرَسُوْلُ اللّٰـهِ صَلَّى اللّٰـهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْـخَيْـرِ مِنَ الِرّيْحِ الْـمُرْسَلَةِ
“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan dengan kebaikan, dan lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan ketika Jibril Alaihis sallam bertemu dengannya. Jibril menemuinya setiap malam Ramadhan untuk menyimak bacaan Al-Qur’annya. Sungguh, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dermawan daripada angin yang berhembus.”(Bukhari dan Muslim).
Jamaah Rahimakumullah,
Dalil-dalil di atas menunjukkan bahwa betapa Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam sangat dermawan. Kelembutan dan kedermawanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bukan hanya di bulan Ramadhan saja. Setiap waktu dan dimana pun beliau selalu begitu. Namun kedermawanan, kelembutan dan keramahan beliau semakin bertambah dan lebih meningkat lagi di bulan Ramadhan, sehingga dikiaskan bahwa kedermawanan dan kelembutan beliau melebihi angin yang berhembus.
Lantas seberapa dermawannya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, terutama di bulan suci Ramadhan?
Sungguh betapa banyak riwayat dan kisah tentang kedermawanan Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam. Marilah kita cermati salah satu kisah kedermawanan Rasulullah pada waktu bulan Ramadhan, berikut ini.
Disebutkan dalam satu hadits sahih, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, ketika kami duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datanglah seseorang sambil berkata: “Wahai, Rasulullah, celaka aku yaa Rasulullah.” Beliau menjawab, ”Ada apa denganmu, apa yang membuatmu celaka?“ Aku telah mencampuri istriku di bulan Ramadhan, padahal aku sedang berpuasa.” Nabi bertanya, ”Apakah kamu punya uang untuk membebaskan budak? “
“Aku tidak punya.”
“Apakah kamu sanggup puasa 2 bulan berturut-turut?” ”Tidak.”
“Apakah kamu bisa memberi makan 60 orang fakir miskin?“ ”Tidak.”
Setelah itu ada seorang sahabat yang membawakan sekeranjang buah kurma kepada Nabi.
Kemudian Nabi memberikan sekeranjang kurma tersebut kepadanya seraya berkata, ”Ambillah kurma ini untuk kamu dan sedekahkanlah.” Orang itu menjawab, ”Adakah orang yang lebih miskin dariku? Tidak ada lagi orang yang lebih membutuhkan di barat atau timur Madinah ini, kecuali aku.” Maka Nabi shalallahu alaihi wasallam tertawa, hingga terlihat giginya lalu bersabda, ”Kalo begitu bawalah kurma ini dan berilah makan keluargamu.” (HR Bukhari dan Muslim).
Hikmah dari hadits di atas, menunjukkan bahwa betapa Rasulullah sangat bijaksana dan karena kedermawanan, serta kecintaan beliau pada umatnya. Rasulullah tidak langsung memarahinya karena beliau sangat memahami bahwa orang yang datang tersebut adalah untuk bertaubat dan ingin lepas dari perbuatan (dosa)nya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan bimbingan kepadanya, tentang kafarat-kafarat yang dapat menebus dosanya. Namun karena ia tidak mampu, hingga datang seorang Anshar membawa sekeranjang kurma bagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Rasulullah memberikan kurma tersebut kepadanya untuk bershodaqah sebagai kafarat (tebusan) yang wajib ia keluarkan. Namun, karena kefakiran orang ini, dan kecintaan Rasulullah pada umatnya, maka Rasulullah malah mengizinkannya untuk memberi makan keluarganya dengan kurma tersebut.
Dalam sebuah riwayat lainnya, dikisahkan bahwa pada suatu hari, Aisyah radhiyallahu’anha menghidangkan makanan paha domba kesukaan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.
Rasulullah bertanya, ”Wahai Aisyah, apakah sudah engkau beri Abu Hurairah tetangga kita?” ”Sudah, yaa Rasulullah,” jawab Aisyah.
Bagaimana dengan Ummu Ayman?” tanya Rasulullah lagi. “Sudah, yaa Rasulullah,” jawab Aisyah.
Kemudian Rasulullah bertanya lagi tentang tetangga-tetangganya yang lain, apakah sudah diberi masakan tersebut. Aisyah kembali menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. “Sudah habis kubagikan, yaa Rasulullah, yang tinggal apa yang ada di depan kita ini,” ujar Aisyah.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tersenyum. Lalu dengan lembut menjawab, ”Engkau salah Aisyah, yang habis adalah apa yang kita makan ini dan yang kekal adalah apa yang kita sedekahkan.”
Sungguh betapa dalam makna dari kisah di atas, bahwa pada hakekatnya yang kita miliki adalah yang kita Infaq kan atau yang kita sedekahkan pada orang lain, bukan yang kita simpan.
Saudaraku,
Di era kehidupan modern yang serba cepat ini, kita justru sering kali lambat dalam satu hal, yaitu berbagi dengan sesama. Kita kerap terjebak dalam kalkulasi yang rumit sebelum mengeluarkan sebagian harta. “Nanti kalau di infaqkan, uang kita tidak cukup, bulan ini sepertinya masih butuh dana tambahan, tunggu saja gajian bulan depan.”
Bisikan atau kalkulasi tersebut di atas, seringkali menjadi alasan untuk tidak segera berinfaq dan bershodaqah.
Kisah dan riwayat di atas merupakan tuntunan luhur, bahwa lebih dari 14 abad yang lalu, Rasulullah telah mengajarkan standar kedermawanan yang melampaui logika manusia biasa, yaitu standar yang diletakkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.
Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam menunjukkan kecepatannya dalam memutuskan untuk bersegera bershodaqah, bahkan digambarkan sebagai fenomena alam, “Bagaikan angin yang berhembus (ar-riih al-mursalah).”
Hal ini menunjukkan makna yang amat dalam bahwa kedermawanan Rasulullah meliputi tiga dimensi yaitu kecepatan, keluasan dan keikhlasan.
Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari menjelaskan bahwa qiyas atau analogi angin yang berhembus menunjukkan betapa Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam memberi tanpa menunda-nunda waktu untuk bershodaqah. Beliau tidak membiarkan syetan membisikkan keraguan atau ketakutan akan kemiskinan.
Selain itu, dalam bershodaqah, Rasulullah memiliki keluasan dalam memberi. Bagaikan angin yang berhembus, shodaqoh pun memiliki jangkauan yang luas. Angin meniup siapa saja secara luas, sehingga shodaqoh pun sampai kepada siapapun yang membutuhkannya.
Sedangkan dimensi ketiga adalah keikhlasan yang luar biasa yang merupakan puncak tertinggi dari akhlak mulia, yaitu sifat Itsar.
Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam seringkali memberi dari apa yang beliau sendiri butuhkan.
Inilah tingkat tertinggi kedermawanan, yang dalam Islam disebut Itsar, yaitu mendahulukan orang lain meski dirinya sendiri juga membutuhkan.
Sifat ini merupakan sifat yang sangat terpuji.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَا لَّذِيْنَ تَبَوَّؤُ الدَّا رَ وَا لْاِ يْمَا نَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّوْنَ مَنْ هَا جَرَ اِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُوْنَ فِيْ صُدُوْرِهِمْ حَا جَةً مِّمَّاۤ اُوْتُوْا وَيُـؤْثِرُوْنَ عَلٰۤى اَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَا نَ بِهِمْ خَصَا صَةٌ ۗ وَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَـفْسِهٖ فَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
“Dan orang-orang (Ansar) yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin) atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr 59: Ayat 9).
“Yaa Allah, Yang Maha Penyantun lagi Maha Penyayang, limpahkanlah bagi kami kekuatan, taufiq dan hidayah-Mu sehingga kami menjadi orang-orang yang gemar shodaqoh, baik di bulan Ramadhan maupun di luar bulan Ramadhan.
Aamiin yaa Rabbal Aalamiin.
*). Dirangkum dari beberapa sumber.





